Rabu, 13 Juli 2011

kti, prilaku ibu dalam memelihara kesehatan gigi anak

1
 

 
BAB I

PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang Masalah
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. Pendidikan kesehatan adalah proses membantu sesorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang mempengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain. ( http://www.pengertian.net/pengertian-kesehatan.html)
Penyakit gigi dan mulut  adalah bagian integral dari kesehatan secara umum. Dengan bertambahnya angka harapan hidup bagi populasi Indonesia, kesehatan gigi dan mulut semakin jelas memegang peranan utama dalam peningkatan kualitas hidup seseorang. Di negara-negara berkembang, terjadi kecenderungan peningkatan penyakit gigi dan mulut khususnya karies gigi, penyakit gusi (periodontitis), maloklusi, dan kanker mulut. Di Negara-negara maju, terlihat dengan jelas adanya penurunan insidensi penyakit gigi dan mulut, hal ini merupakan keberhasilan pendidikan kesehatan gigi dan mulut bagi masyarakat dan perubahan pola diet masyarakat serta penggunaan florida dalam bentuk air minum, permen karet, dan pasta gigi. (Emmyr Faizal Moeis, 2004).
Kesehatan gigi dan mulut hingga kini masih belum menjadi perhatian utama. Akibatnya, gigi berlubang atau karies menjadi masalah umum yang dihadapi sebagian besar masyarakat. Padahal kondisi ini menjadi gerbang beragam penyakit. Selama ini penanganan masalah gigi masih sebatas menambal lubang gigi. Tindakan tersebut sudah dianggap mampu mengontrol karies. Padahal itu belum cukup mengatasi masalah secara menyeluruh. (PDGI, 2010).
Masalah kesehatan gigi dan mulut menjadi perhatian yang sangat penting dalam pembangunan kesehatan yang salah satunya disebabkan oleh rentannya kelompok anak usia sekolah dari gangguan kesehatan gigi. Usia sekolah merupakan masa untuk meletakkan landasan kokoh bagi terwujudnya manusia yang berkualitas dan kesehatan merupakan faktor penting menentukan kualitas sumber daya manusia. (Linda Warni, 2009).
Dalam SKN (Sistem Kesehatan Nasional) sesuai dengan Surat keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 131/MENKES/SK/II/2004 tentang Sistim Kesehatan Nasional (SKN), dinyatakan upaya kesehatan dilaksanakan dan dikembangkan berdasarkan suatu bentuk atau pola Upaya kesehatan puskesmas, peran serta masyarakat, dan rujukan upaya kesehatan. Selain itu ditunjang juga dengan program pemerintah yaitu menuju Indonesia  sehat 2010.
Penerapan instruksi pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut sebaiknya telah dimulai sejak bayi masih di dalam kandungan, sehingga orang tua akan lebih siap di dalam melakukan instruksi tersebut. Peran serta orang tua sangat diperlukan di dalam membimbing, memberikan pengertian, mengingatkan, dan menyediakan fasilitas kepada anak agar anak dapat memelihara kebersihan gigi dan mulutnya. Selain itu orang tua juga mempunyai peran yang cukup besar di dalam mencegah terjadinya akumulasi plak dan terjadinya karies pada anak (Eriska Riyanti, 2005).
Pengetahuan orang tua sangat penting dalam mendasari terbentuknya perilaku yang mendukung atau tidak mendukung kebersihan gigi dan mulut anak. Pengetahuan tersebut dapatdiperoleh secara alami maupun secara terencana yaitu melalui proses pendidikan. Orang tua dengan pengetahuan rendah mengenai kesehatan gigi dan mulut merupakan faktor predisposisi dari perilaku yang tidak mendukung kesehatan gigi dan mulut anak. (Eriska Riyanti, 2005).
Figur pertama yang dikenal anak begitu ia lahir adalah ibunya. Maka dari itu, perilaku dan kebiasaan ibu dapat dicontoh oleh sang anak. Pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi akan sangat menentukan status kesehatan gigi anaknya kelak. Namun ‘tahu’ saja tidak cukup, perlu diikuti dengan ‘peduli’ dan ‘bertindak’.Kesehatan gigi dan anak perlu diperhatikan sedini mungkin. Pembentukan gigi pada anak sudah dimulai sejak ia masih dalam kandungan. Faktor gizi ibu hamil sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan janin, tak terkecuali bagian gigi dan mulutnya. Kalsium, fluor dan fosfor adalah elemen penting dalam pembentukan gigi janin. Begitu juga vitamin C dan D.
Holt RD, dkk melakukan penelitian tentang efek pendidikan kesehatan gigi yang diberikan ibu kepada anaknya yang berusia 5 tahun di London. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa 69% dari anak-anak yang ibunya memberikan oral health education di rumah memperlihatkan bebas karies, dan angka gingivitis (radang gusi) yang lebih rendah daripada anak-anak yang tidak dididik tentang kesehatan gigi dan mulut oleh ibunya. Karies gigi dapat terjadi sangat dini, begitu gigi sudah tumbuh dan terekspos ke lingkungan mulut maka ia berpotensi untuk mengalami karies.
Ibu dapat membantu membersihkan gigi anaknya yang masih batita dengan menggunakan kasa atau kapas bersih yang disapukan ke permukaan gigi. Untuk mengetahui apakah masih terdapat plak di permukaan gigi, dapat dioleskan disclosing solution yang akan memberi warna merah pada bagian permukaan yang ditutupi plak. Jadi bisa ketahuan apakah gigi memang sudah benar-benar bersih atau belum. (http://www.equator-news.com/mingguan/sehat/perilaku-ibu-dan-kesehatan-gigi-anak).
Menurut laporan Riset Kesehatan Dasar 2007, hanya 29,6% yang mendapatkan perawatan dari tenaga kesehatan gigi dari 23,4% kasus penyakit gigi dan mulut. Hanya sebesar 7,3% dari 91,1% masyarakat Indonesia berumur diatas 10 tahun yang sudah menggosok gigi setiap hari, telah menggosok gigi secara benar, yaitu pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Tingkat prevalensi penderita karies adalah sebanyak 43,4% dan hanya terdapat 5,5% masyarakat Indonesia yang memeriksakan kesehatan gigi secara teratur ke dokter gigi.
Indonesia menetapkan indikator derajat kesehatan gigi masyarakat yang harus dicapai pada tahun 2010, dimana pada kelompok umur 12 tahun ke atas indikatornya DMF-T atau Indeks yang menyatakan jumlah gigi (Tooth=T), Gigi tetap yang berlubang (Decay=D), Gigi tetap yang sudah dicabut (Missing=M), Gigi tetap yang sudah ditambal (Filled=F) perorang adalah ≤ 1 gigi. Artinya dalam mulut seseorang maksimal 1 gigi yang yang berlubang/sudah dicabut/sudah ditambal. Namun keadaan kesehatan gigi penduduk Indonesia pada tahun 2001 menunjukkan bahwa status kesehatan gigi kelompok umur 12 tahun masih melebihi batas sasaran 2010, dengan indeks DMF-T = 1,1 (Depkes, 2004).
Menurud laporan Puskesmas Lampeuneuret Aceh Besar Dari Bulan Januari hingga Desember tahun 2009 bahwa kebersihan gigi anak usia sekolah pada  umur 10-11 tahun, memiliki Oral Hygiene buruk sebanyak 83 orang, sedangkan pada Januari hingga Desember 2010 terjadi peningkatan yaitu sebanyak 106 orang.
Berdasarkan observasi dan pemeriksaan yang dilakukan peneliti pada 20 orang murid kelas V dan VI di SD Mesjid Lheu Desa Lagang Kecamatan Darul Imarah Aceh  Besar, bahwa 13 dari 20 orang murid  memiliki status Oral Hygiene buruk dengan kategori 1,9 – 3,0 . Hal ini menunjukkan bahwa masih kurangnya perhatian ibu terhadap kebersihan gigi dan mulut anak usia sekolah di SD Mesjid Lheu Desa lagang Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar.
Setelah peneliti melakukan wawancara dengan 10 orang ibu di Desa Lagang Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar maka diperoleh hasil, yaitu dari 10 ibu yang memiliki anak usia sekolah, 7 orang diantaranya masih sangat kurang memahami  tentang pentingnya pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut anak usia sekolah.









B.     Perumusan masalah
            Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam karya tulis ilmiah ini adalah : Bagaimanakah Gambaran Prilaku Ibu Tentang Status OHI-S Anak Usia Sekolah di Desa Lagang Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar.

C.       Tujuan Penelitian
1.        Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran prilaku ibu tentang status OHI-S anak usia sekolah di Desa Lagang Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar.
2.        Tujuan Khusus
a.     Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang status OHI-S anak usia sekolah di Desa Lagang  Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar.
b.    Untuk mengetahui gambaran sikap ibu tentang status OHI-S anak usia sekolah di Desa Lagang  Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar.
c.    Untuk mengetahui gambaran tindakan ibu tentang status OHI-S anak usia sekolah di Desa Lagang  Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar.
d.    Untuk mengetahui setatus kebersihan gigi anak usia sekolah di Desa Lagang Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar.

D.      Manfaat Penelitian
1.      Dapat menambah pengetahuan dan wawasan penulis di bidang kesehatan gigi dan mulut,
2.      Dari hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pemerintah pada umumnya dan politeknik jurusan kesehatan gigi pada khususnya,
3.      Dapat digunakan sebagai bahan pedoman bagi yang ingin melakukan penelitian selanjutnya.



















9
 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.       Perilaku
    
            Robert Kwick (2001) Menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme dan bahkan dapat dipelajari. Menurut ensiklopedia Amerika perilaku diartikan sebagai suatu reaksi dan aksi organisme terhadap lingkungannya. Perilaku manusia mempunyai pengaruh terhadap status kesehatan individu, kelompok kaum masyarakat. Perilaku itu sendiri adalah suatu yang kompleks, merupakan resultante dari berbagai macam aspek internal maupun eksternal, fsikologis maupun fisik. Oleh karena demikian kompleksnya sehingga diperlukan pemahaman dan analisis yang mendalam.
Perilaku kesehatan  (Menurut Skinner) adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayana kesehatan, makanan dan minuman, serta lingkungan. Perilaku kesehatan mencakup :
  1. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit baik pasif maupun aktif, sesuai dengan tingkat-tingkat pencegahan penyakit
    1. Health Promotion Behavior
                  Peningkatan & pemeliharaan kesehatan
                  misalnya Olah raga, diet, makan bergizi 

            b.   Health Preventive Behavior
                  Mencegah penyakit
                  misalnya Imunisasi, penyemprotan nyamuk
      c.   Health Seeking Behavior
            Mencari pengobatan
            misalnya ke dokter, ke dukun
d.      Health Rehabilitation Behavior
           Pemulihan kesehatan
           misalnya   diet, mematuhi anjuran dokter
       2.   Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan (modern/tradisional) meliputi
             respon terhadap pelayanan, petugas kesehatan, obat
 3.   Perilaku terhadap makanan (nutrition behavior) Respon terhadap makanan
       sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan
 4.   Perilaku terhadap lingkungan kesehatan sespon terhadap lingkungan sebagai
       determinan kesehatan, mencakup:   
·      Perilaku sehubungan dengan air bersih
·      Perilaku sehubungan dengan limbah
·      Perilaku sehubungan dengan rumah sehat
Becker (1998) mengajukan klasifikasi perilaku yang berhubungan dengan
kesehatan (healt related behavior) sebagai berikut :
a.         Perilaku kesehatan (health behavior), yaitu hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dalam meningkatkan kesehatannya.
b.         Perilaku sakit (illness behavior), yaitu segala kegiatan atau tindakan yang dilakukan oleh seseorang individu yang merasa sakit, untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit.
c.         Perilaku peran sakit (the sick role behavior), yakni segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh individu yang sedang sakit, untuk memperoleh kesembuhan.
Roger (1974), menyatakan bahwa sebelum seseorang mengadopsi perilaku yang baru, di dalam diri seseorang tersebut terjadi suatu proses, yaitu (Notoatmodjo, 2007) :
1.      Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dimana terlebih dahulu mengetahui objek (stimulus)
2.      Interest (merasa tertarik), yakni orang mulai tertarik pada objek (stimulus)
3.      Evaluation (menimbang-nimbang), yakni sikap responden sudah lebih baik, responden mulai menimbang-nimbang baik atau tidaknya stimulus terhadap dirinya
4.      Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru tersebut
5.      Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap objek (stimulus).
Perilaku merupakan totalitas aktivitas seseorang yang merupakan hasil dari beberapa faktor, baik faktor eksternal maupun internal. Benyamin Bloom membagi perilaku manusia dalam 3 domain, yakni kognitif, efektif, psikomotor. Dalam kehidupan terdapat 3 tahap dalam mengadopsi suatu perilaku, yaitu (Notoatmodjo, 2007).
Perilaku kesehatan gigi individu atau masyarakat merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan gigi individu atau masyarakat. Perilaku kesehatan gigi positif, misalnya kebiasaan menggosok gigi dan mulut, sebaliknya perilaku kesehatan gigi negatif, misalnya tidak menggosok gigi secara teratur maka kondisi kesehatan gigi dan mulut akan menurun dengan dampak antara lain mudah berlubang. (Linda Warni dikutip dari Budiharto, 2009).

1.    Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan ini terjadi melalui panca indra manusia, namun sebagia besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan ini akan berpengaruh pada perilaku seseorang (Notoadmodjo, 2005).
Pengetahuan adalah merupakan hasil mengingat suatu hal, termasuk mengingat kembali suatu kejadian yang pernah dialami baik tidak sengaja maupun sengaja dan terjadi setelah orang melakukan kontak atau pengamatan terhadap suatu objek tertentu.(Wahit, dan kawan-kawan,2006)
Lawrence Green mencoba menganalisa perilaku manusia dari tingkat kesehatan dan selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor, yaitu :
a.     Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.
b.    Faktor-faktor pendukung (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas dan sarana-sarana kesehatan.
c.     Faktor-faktor pendorong (renforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas yang lain yang merupakan kelompok referensi dari masyarakat.
Pengetahuan umumnya datang dari pengalaman, kita juga dapat memperoleh pengetahuan dari informasi yang disampaikan oleh guru, orang lain, teman, buku dan surat kabar. Kita juga menelusurinya sendiri, kita tahu kemana harus bertanya (Diknas Ne, 2003).
Menurut Notoatmodjo (2005), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat, yakni :
a.     Tahu (know)
Tahu artinya sebaai pengingat suatu materi yang sudah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetauan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tau ini merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah. Untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan menyatakan dan sebagainya.
b.    Memahami (comperhensif)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menyimpulkan, menyebutkan terhadap obyek yang dipelaarinya dengan baik.
c.     Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya), aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan dalam konteks atau situasi yang lain.
d.   Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu komponen untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan dan mengelompokkan.
e.     Sintesis (syintesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan dan menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
       f.     Evaluasi (evaluation)
Ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

2. Sikap (attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek yang diterimanya. Sikap itu belum merupakan tindakan, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan (Sumarti, Soekidjo Notoatmodjo, 2007). Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya diharapkan ia akan melaksanakan atau mempraktekkan apa yang diketahuinya (dinilai baik). (Linda Warni, dikutip dari Notoadmojo, 2009).(Senja Kecil Nirwana Nur).
Sikap seseorang terhadap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan mereka terhadap kesehatan gigi dan mulut. Sikap mereka yang baik dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut akan membuat mereka untuk lebih memperhatikan kesehatan gigi dan mulut. (Dede Sutardjo, 2002). (Senja Kecil Nirwana Nur).

c. Tindakan (practice)
Menurut Notoatmodjo (2007), tindakan merupakan suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (over behaviour). Untuk terwujudnya sikap agar menjadi perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain adalah fasilitas. Contoh : seseorang yang bersikap positif terhadap kesehatan gigi sehingga secara teratur memeriksa gigi ke puskesmas.
Tingkat-tingkat tindakan sebagai berikut :
1.      Persepsi (perseption), mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil.
2.      Respon terpimpin (guided respons), dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar.
3.      Mekanisme (mecanism), seseorang telah melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis.
4.      Adaptasi (adaptation), suatu tidakan sudah berkembang dengan baik, artinya tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

B. KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT
   Kebersihan gigi dan mulut adalah keadaan yang terbebas dari kelainan-kelainan yang dapat mempengaruhi tingkat kebersihan gigi dan mulut seperti plak dan karang gigi. Kebersihan mulut yang bagus akan membuat gigi dan jaringan sekitarnya sehat. Gigi yang sehat adalah gigi yang rapi, bersih, bercahaya dan mulut yang sehat tidak tercium  bau tak sedap. Kondisi ini hanya dicapai dengan perawatan yang tepat. (Trisna, 2006).

C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kebersihan Gigi dan Mulut Anak
Kebersihan gigi dan mulut merupakan masalah anak yang paling menonjol, sehingga resiko yang berkaitan dengan kebersihan mulut (misalnya kebiasaan membersihkan gigi) merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan kebersihan gigi dan mulut (Herijulianti, 2001). Menurut Sriyono (2005), faktor yang mempengaruhi kebersihan gigi dan mulut adalah : debris, plak dan kalkulus.
1. Debris dan Plak
Menurut Sriyono (2005), debris adalah materia lunak yang melekat secara longgar pada permukaan gigi. Sedangkan plak adalah suatu endapan lunak yang terdiri atas kumpulan bakteri yang berkembang biak diatas suatu matriks atau lendir yang terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi. Plak dapat terbentuk kapan saja, meskipun gigi sudah dibersihkan. Gigi yang kurang baik seperti gigi yang berjejal dan sulit dibersihkan dapat menyebabkan plak mengumpul makin banyak dan akan mewnyebabkan karang gigi setelah mengalami proses kalsifikasi (pengapuran).
2. Kalkulus (karang gigi)
Menurut Depkes (2000), kalkulus merupakan suatu endapan keras yang terletak pada permukaan gigi yang berwarna mulai dari kekuning-kuningan, kecoklat-coklatan sampai kehitam-hitaman dan mempunyai permukaan kasar atau plak yang telah mengalami pengapuran. Pratiwi (2007), menyatakan bahwa faktor atau penyebab yang mempengaruhi terbentuknya kalkulus yaitu, bakteri aktif penyebab karang gigi (kalkulus) golongan streptococcus dan anaerob. Bakteri tersebut akan mengubah glukosa dan karbohidrat pada sisa makanan yang terdapat didalam mulut menjadi asam melalui proses fermentasi, asam akan terus diproduksi oleh bakteri.
Kalkulus jarang ditemukan pada gigi susu dan tidak sering ditemukan pada gigi permanen anak usia muda. Meskipun demikian, pada anak usia 9 tahun, kalkulus sudah dapat ditemukan pada sebagian besar rongga mulut. (Meganda Hp, 2009).

D. Cara Mengukur atau Melihat Kebersihan Gigi dan Mulut
Menurut Herijulianti (2001), kebersihan gigi dan mulut dapat diukur dengan suatu indeks, yaitu angka yang menyatakan keadaan klinis. Tujuan dari penggunaan indeks adalah untuk membedakan keadaan klinis pasien secara individu atau kelompok pada waktu yang sama atau berlainan. Untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut digunakan teknik Green dan Vermilion, yaitu dengan cara menjumlahkan Debris Indeks (DI) dan Kalkulus Indeks (CI).
1. Debris Indeks
Menurut Herijulianti (2001), Debris Indeks adalah skor atau nilai dari endapan lunak yang terjadi karena adanya sisa makanan yang melekat pada gigi tertentu. Cara mengukur DI adalah dengan penetapan :
a.  Gigi Penentu
1)        Pemeriksaan rahang atas, gigi yang diperiksa adalah :
(a)      Gigi 6 kanan dan kiri permukaan bukal
(b)      Gigi 1 kanan permukaan labial

2)        Pemeriksaan rahang bawah :
(a)      Gigi 6 kanan dan kiri permukaan lingual
(b)      Gigi 1 kiri permukaan labial
b. Kriteria penilaian Debris Indeks
TABEL 1 : DAFTAR KRITERIA PENILAIAN DEBRIS
KRITERIA
NILAI
1. Pada permukaan gigi yang terlihat tidak ada debris atau pewarnaan intrinsik
0
2. a. Pada permukaan gigi yang terlihat ada debris lunak yang menutupi permukaan gigi seluas 1/3 permukaan atau kurang dari 1/3 permukaan gusi
b. pada permukaan yang terlihat tidak ada debris lunak tetapi ada pewarnaan ektrinsik yang menutupi sebagian permukaan atau seluruhnya
1


1
3. Pada permukaan gigi yang terlihat ada debris lunak yang menutupi sebagian permukaan tersebut seluas lebih dari 1/3 permukaan gigi tetapi kurang dari 2/3 permukaan gigi dari tepi gusi
2
Sumber : Herijulianti, 2001
 
4. Pada permukaan gigi yang terlihat ada debris yang menutupi permukaan tersebut seluas lebih dari 2/3 permukaan atau seluruh permukaan gigi dari gusi
3
c. Cara menghitung Debris Indeks adalah sebagai berikut :
Debris Indeks =  Jumlah Penilaian Debris
Jumlah Gigi yang Diperiksa

d. Skor Debris Indeks
1) Baik (good), nilai berada diantara 0 – 0,6
2) Sedang (fair), nilai berada diantara 0,7 – 1,8
3) Buruk (poor), nilai berada diantara 1,9 – 3,0.
2. Kalkulus Indeks
Menurut Herijulianti (2001), Kalkulus Indeks adalah skor atau nilai dari endapan keras yang terjadi karena debris mengalami pengapuran yang melekat pada gigi. Cara perhitungan Kalkulus Indeks adalah dengan penetapan :
a. Gigi penentu
1) Pemeriksaan rahang atas, gigi yang diperiksa adalah :
(a) Gigi 6 kanan dan kiri permukaan bukal
(b) Gigi 1 kanan permukaan labial
2) Pemeriksaan rahang bawah
(a) Gigi 6 kanan dan kiri permukaan lingual
(b) Gigi 1 kiri permukaan labial
b. Kriteria penilain Kalkulus Indeks
TABEL 2 : DAFTAR KRITERIA PENILAIAN KALKULUS
KRITERIA
NILAI
1.   Tidak ada kalkulus (karang gigi)
0
2.  Pada permukaan gigi yang terlihat karang gigi supragingival menutupi permukaan gigi kurang dari 1/3 permukaan gigi
1
3. a. Pada permukaan gigi yang terlihat ada karang gigi supragingival menutupi permukaan gigi kurang dari 2/3 permukaan gigi
 b. Sekitar servikal gigi terdapat sedikit karang gigi       subgingival
2


2
4. a. Pada permukaan gigi yang terlihat ada karang gigi supragingival menutupi permukaan gigi lebih dari 2/3 atau seluruh permukaan gigi
  b. Pada permukaan gigi ada karang gigi subgingival yang menutupi dan melingkari seluruh servikal
3


3
Sumber : Herijulianti, 2001

c. Cara menghitung kalkulus indeks
Kalkulus Indeks = Jumlah Penilaian Kalkulus
Jumlah Gigi yang Diperiksa 

d. Skor Kalkulus Indeks
1) Baik (good), nilai berada diantara 0 – 0,6
2) Sedang (fair), nilai berada diantara 0,7 – 1,8
3) Buruk (poor), nilai berada diantara 1,9 – 3,0
3. OHI- S
 Menurut Herijulianti (2001), OHI- S adalah Oral Hygiene Index – Simplifed yang merupakan hasil penjumlahan debris indeks dan kalkulus indeks. Hasil akhir dari OHI – S inilah yang menjadi kriteria kebersihan gigi dan mulut seseorang.
a. Cara menghitung OHI – S
OHI – S = Debris Indeks + Kalkulus Indeks
b. Skor OHI – S
1) Baik (good), nilai berada diantara 0 – 1,2
2) Sedang (fair), nilai berada diantar 1,3 – 3,0
3) Buruk (poor), nilai berada diantara 3,1 – 6,0
E.       Upaya Pemeliharaan Kebersihan Gigi dan Mulut Anak
Pada masa balita (2-5 tahun), perkembangan anak berubah dari otonomi ke inisiatif, timbul keinginan-keinginan yang baru dalam diri anak. Pada usia ini adalah saat yang paling baik untuk mulai menggunakan sikat gigi. (Singgih DG, 2000).
Menurut Depkes RI (2000), cara perawatan untuk mendapatkan gigi yang sehat yaitu dengan cara, pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut secara teratur. Beberapa teknik pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut yang dapat dilaksanakan dan merupakan peran dari orang tua terutama ibu pada usia ini adalah (Riyanti,E 2005)  :
1.    Menyikat gigi
Penyikatan gigi bertujuan untuk menghindari plak. Plak dapat menyebabkan kerusakan gigi, misalnya gigi berlubang. Waktu menyikat gigi minimal dua kali sehari yaitu pagi hari setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Untuk menyikat gigi secara benar sebaiknya dilakukan lebih dari dua menit (Sondang P, 2008). Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyikatan gigi anak balita (Jane Kemp, 2004) :
a. Berdirilah dibelakang anak untuk menyikat giginya, dengan begitu akan     membuat lebih mudah menyentuh mulutnya dengan sikat
b. Jagalah anak balita agar tidak menelan pasta gigi, banyaknya pasta yang diberikan pada balita dianjurkan sebesar biji kacang polong. Karena terlalu banyak fluor bisa membuat gigi tetapnya yang sedang berkembang mengalami perubahan warna (fluorosis)
c. Mulai dari usia 2 tahun, anak sudah dapat diajarkan menyikat gigi dengan metode schrob. Metode ini adalah suatu metode menyikat gigi yang mudah dan sederhana untuk dianjurkan pada anak. Caranya, menyikat gigi bagian atas dan bawah dengan arah ke sampingkanan dan kiri, kemudian seluruh gigi bagian samping dan seluruh gigi bagian belakng disikat, lalu anak berkumur dengan air bersih beberapa kali
2.             Penggunaan Dental Floss
Dental floss atau benang gigi dilakukan untuk membantu membersihkan sisa makanan yang ada di daerah yang sulit dijangkau oleh sikat gigi, yaitu didaerah proximal atau diantara gigi (Sukma, 2008). Flossing dapat dilakukan setiap hari atau minimal dua kali dalam satu minggu.
3.    Penggunaan alat pembersih lidah
Alat pembersih lidah berfungsi untuk membersihkan permukaan lidah pada saat setelah menyikat gigi, orang sering mengabaikam lidah. Sisa susu pada balita sering menempel dilidah sehingga lidah pun perlu dibersihkan (Sukma, 2008).

4.    Memperhatikan pola makan
Pola makan harus selalu diperhatikan, kurangi konsumsi makanan manis dan mudah melekat pada gigi seperti permen atau coklat antara selang waktu makan, siapkan makanan yang kaya kalsium, fluor, fosfor, serta vitamin. Mineral dan vitamin tersebut diperlukan untuk pertumbuhan gigi balita. Perbanyak makan makanan yang berserat seperti sayur-sayuran dan buah-buahan karena makanan ini bersifat self cleansing (pembersih) yang membutuhkan proses pengunyahan secara berulang-ulang (Putri, 2008).
5.    Melakukan pemeriksaan ke klinik gigi
Pemeriksaan rutin 3-6 bulan sekali sangat berguna terutama dalam memonitor pertumbuhan dan perkembangan gigi balita serta mendeteksi kelainan gigi anak sejak dini. (American Dental Association, 2009).

BAB III
25
 
KERANGKA KONSEP PENELITIAN
A.     KERANGKA KONSEP
Berdasarkan teori yang berkaitan prilaku ibu dengan kebersihan gigi anak usia sekolah maka di kembangkan suatu kerangka pikir mengenai “Gambaran Prilaku Ibu Tentang Status OHI-S Anak Usia Sekolah Di Desa Lagang Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar Tahun 2011”.
Kerangka pikir adalah yang menunjukkan antara pengetahuan yang merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu, sikap yang merupakan reaksi atau respon seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek yang diterimanya dan tindakan yang merupakan suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan dengan kebersihan gigi dan mulut.
 

                                                                               

B.     Variabel
1. Pengetahuan
2. Sikap
3. Tindakan
4. Kebersihan gigi dan mulut
C. Defenisi Operasional
No
Variabel Perilaku
Defenisi oprasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil ukur
Skala ukur
1. 

Pengetahuan
Hal yang diketahui oleh responden tentang kebersihan gigi dan mulut anak usia sekolah
Wawancara
Kuisioner

- Baik  ≥ 50%
-Kurang ≤ 50%
Ordinal
2.  2.
Sikap

Reaksi atau tanggapan responden terhadap kebersihan gigi dan mulut anak usia sekolah
Wawancara

Kuisioner/formulir isian

- Baik  > 50%
-Kurang ≤ 50%
Ordinal

3.

Tindakan
Perbuatan atau aktifitas responden yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari
Wawancara
Kuisioner
- Baik  ≥ 50%
-Kurang ≤ 50%
Ordinal


No
Variabel
Defenisi oprasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil ukur
Skala ukur
1
Kebersihan gigi anak (OHI-S)
Kondisi gigi anak yang terbebas dari debris dan plak.
Pemeriksaan
- Kaca mulut - Sonde        - Exavator    - Pinset         - Disclosing  - Kapas
Baik    (0 - 0,6) Sedang (0,7-1,8) Buruk  (1,9-3,0)
Ordinal




27
 
BAB IV
METODE PENELITIAN
A.     Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif  yaitu untuk mengetahui gambaran prilaku ibu tentang setatus OHI-S anak usia sekolah di Desa Lagang Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar tahun 2011.
B.     Tempat dan Waktu Penelitian
1.        Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Lagang Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar.
2.        Waktu Penelitian
Penelitian ini direncankan pada bulan Juli 2011.

C.     Populasi dan Sampel
1.        Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki anak usia sekolah 10-11 tahun di Desa Lagang Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar berjumlah 40 orang ibu.
2.        Sampel
Yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah total pulasi, yaitu ibu dan anak usia 10 – 11 tahun sebanyak 40 orang di Desa Lagang Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar.
D.    Instrumen penelitian
Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa kuesioner yang diberikan kepada responden.s
E.     Cara pengumpulan data
1.        Data Primer
Data diperoleh melalui wawancara langsung dengan responden yang mengunakan kuesioner.
2.        Data Skunder
Data ini diperoleh dari catatan mengenai jumlah ibu-ibu yang memiliki anak usia sekolah 10-11 tahun yang tercatat dalam dokumen di Desa Lagang Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar.
F.      Cara Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan secara manual dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Editing
Yaitu mengoreksi kesalahan-kesalahan dalam pengisian atau pengambilan data.
2.      Coding
Yaitu memberikan tanda atau kode atas jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner.
3.       Tabulating
Yaitu mentabulasikan data dalam bentuk table distribusi frekuensi.

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  2. Terimakasih Infonya
    sangat bermanfaat..
    Perkenalkan saya mahasiswa Fakultas Kedokteran di UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA Yogyakarta
    :)

    BalasHapus